KESEHATAN MENTAL GENERASI Z PERLU MENJADI PERHATIAN

 

Generasi Z didefenisikan sebagai orang-orang yang lahir dalam rentang tahun kelahiran 1998 sampai 2010. Generasi ini merupakan generasi digital yang mahir dan gandrung akan teknologi informasi dan berbagai aplikasi komputer. Mereka sangat suka dan sering berkomunikasi dengan semua kalangan khususnya lewat jejaring sosial seperti facebook, twitter, line, whatsapp, telegram, instagram, atau SMS. Melalui media ini mereka jadi lebih bebas berekspresi dengan apa yang dirasa dan dipikir secara spontan. Namun dibalik itu,  generasi Z adalah generasi yang rentan mengalami gangguan kesehatan mental.

Menurut penelitian American Psychological Association (APA) tahun 2018 berjudul “Stress in America: Generation Z”, anak muda usia 15 sampai 21 tahun adalah kelompok manusia dengan kondisi kesehatan mental terburuk dibandingkan dengan generasi-generasi lainnya.

Penelitian yang dilakukan APA tersebut melibatkan wawancara dengan 3500 terwawancara berumur 18 tahun ke atas, dan 300 wawancara dengan terwawancara usia 15 sampai 17 tahun.

Menurut penelitian APA tersebut, diperoleh hasil bahwa sebanyak 91 persen generasi Z mempunyai gejala-gejala emosional maupun fisik yang berkaitan dengan stres, seperti depresi dan gangguan kecemasan. Stres adalah faktor terbesar penyebab buruknya kesehatan mental generasi Z.

Stres yang dialami banyak orang dalam generasi Z disebabkan oleh beberapa hal. Peningkatan angka bunuh diri, peningkatan laporan terhadap kasus kekerasan dan pelecehan seksual, hingga pemanasan global dan perubahan iklim adalah beberapa faktor pemicu stres generasi Z. Isu-isu tersebut bisa menjadi persoalan tersendiri bagi individu-individu dalam generasi Z akibat tingginya aksesibilitas informasi bagi generasi Z.

Setelah tekanan kehidupan, generasi Z juga merasakan stres akibat informasi-informasi tak terbendung yang beredar di sekitarnya. Banyaknya jumlah media massa yang berbasis internet atau media daring membuat generasi Z semakin dekat dengan informasi dari seluruh dunia.

Selain itu, generasi ini pun memanfaatkan dunia virtual sebagai tempat “pelarian” dari kehidupan nyata. Sayangnya, internet bisa membuat  kondisi kesehatan mental generasi Z menjadi lebih buruk.

Bukan hanya stres, hasil lain dari keakraban generasi Z dengan teknologi adalah terganggunya kondisi psikologis. Generasi Z akrab dengan video games, permainan berbasis gadget dan internet yang menjadi sumber hiburan bagi banyak orang.

Padahal, menurut Weinstein (2010), banyak bermain video games bisa menyebabkan ketidak mampuan untuk mengatur rasa frustasi, rasa takut, kegelisahan, dan menurunnya nilai di sekolah. Sementara itu, bermain video games secara berlebihan, disampaikan Van Rooij, Meerkerk, Schoenmakers, Griffiths, & Van De Mheen (2010) dapat berdampak pada keridakmampuan untuk menyelesaikan masalah dalam memenuhi cinta, pekerjaan, dan persahabatan.

Kecenderungan-kecenderungan psikologis tersebut bisa berdampak buruk pada kehidupan sosial generasi Z. Kemampuan penyelesaian masalah dan hubungan dengan manusia-manusia lain adalah hal penting yang harus dihadapi manusia dalam sepanjang hidupnya. Bila generasi Z tak menguasai hal-hal itu, lantas bagaimana mereka bisa melanjutkan hidup di dunia nyata ini?

Kehadiran medsos juga memberikan dampak pada kesehatan mental generasi Z. Komunikasi yang semula terbatas jarak, kini bisa dilakukan dengan mudah melalui medsos dan beragam fiturnya. Tak ada lagi halangan jarak dan waktu dalam berkomunikasi berkat adanya medsos.

Tapi, ternyata medsos bukan hanya membawa kemudahan bagi generasi Z. Hasil riset APA menunjukkan bahwa media sosial memang memainkan peran yang amat besar dalam kehidupan generasi Z, tapi bukan hanya peran yang berdampak positif. Sebanyak 55 persen generasi Z merasakan medsos memberikan mereka dorongan yang positif bagi diri mereka. Di sisi lain, 45 persen generasi Z mengaku medsos membuat mereka merasa dihakimi dan sebagian lain merasa buruk tentang dirinya sendiri akibat medsos.

Kebebasan berpendapat di media sosial adalah penyebabnya. Berbeda dengan media massa yang mempunyai sosok gatekeeper untuk menjaga arus keluar-masuk informasi, siapa saja bisa mengatakan dan menyebarkan apa saja melalui medsos. Perkataan atau komentar berbau kebencian juga termasuk hal yang secara bebas bisa tersebar di medsos.

Perilaku menekan, mempermalukan, mengancam dan melecehkan seseorang melalui pesan di internet dan medsos disebut dengan perundungan siber (cyberbullying). Generasi Z adalah generasi yang sering berhadapan dengan perundungan siber (cyberbullying), baik sebagai korban maupun sebagai pelaku (Steyer, 2012).

Pemaparan-pemaparan tersebut mematahkan anggapan yang selama ini beredar bahwa anak-anak muda mempunyai tingkat stres yang lebih rendah ketimbang orang-orang yang lebih tua. Banyak faktor yang ternyata membuat anak-anak muda generasi Z mempunyai tingkat stres yang tinggi. Bahkan pada beberapa aspek, melebihi tingkat stres orang-orang yang lebih tua.

Kondisi kesehatan mental generasi Z sangat perlu untuk menjadi perhatian banyak pihak. Selain kajian-kajian ilmiah mengenai penyebab kondisi psikologis ini, berbagai pihak juga perlu terus mengembangkan sosialisasi mengenai pentingnya kesadaran kesehatan mental.

Generasi Z dapat mengatasinya dengan memanajemen stres dengan menjalankan hobi, bermain, mendengarkan musik, meningkatkan komunikasi, tidur yang cukup, konsumsi makanan sehat, olahraga 30 menit sehari sebanyak tiga sampai empat kali seminggu, serta terapi dan relaksasi dengan yoga dan meditasi
 
Generasi ini juga harus bisa mengontrol pikiran. Ubahlah pikiran negatif menjadi pikiran yang rasional untuk mengurangi situasi stres itu.
 
Ubah sikap dan cara berpikir misalnya ketika tugas saya banyak sekali, pikiran ‘saya tidak dapat melakukan apapun dengan benar’ diubah menjadi ‘Saya perlu menentukan tugas mana yang akan saya selesaikan, agar berhasil menyelesaikan tugas’.
 
Dengan melakukan perubahan dalam pola pikir dan gaya hidup seperti yang disebutkan mudah-mudahan stres bisa teratasi dan tidak menjadi gangguan dalam menjalani hari-hari.

Referensi
https://www.medcom.id/rona/kesehatan/lKY60oAN-penyebab-dan-cara-mengatasi-stres-pada-generasi-milenial

https://id.wikipedia.org/wiki/Generasi_Z

https://muda.kompas.id/baca/2019/04/12/darurat-kesehatan-mental-generasi-z/#:~:text=Stres%20yang%20dialami%20banyak%20orang,faktor%20pemicu%20stres%20generasi%20Z.

Komentar